Dari Pemotong Rumput di Siak, Rahmat Setiawan Menembus NASA

Kamis, 20 Agustus 2026

Rahmat Setiawan ketika berbincang dengan Bupati Siak Afni Zulkifli.

SIAK (RUANGRIAU.COM) - Siang hari, Rahmat Setiawan bekerja sebagai pemotong rumput di sebuah perusahaan di Siak. Namun, di balik pekerjaan sederhananya itu, pemuda 27 tahun asal Perawang ini diam-diam menekuni dunia keamanan siber secara otodidak.

Ketertarikannya pada teknologi membawanya ke tempat yang mungkin tak pernah ia bayangkan sebelumnya: NASA, lembaga antariksa Amerika Serikat. Rahmat berhasil menemukan dan melaporkan celah keamanan pada sistem NASA hingga namanya masuk dalam NASA Hall of Fame sebagai bentuk apresiasi atas laporan kerentanan yang dinyatakan valid.

Rahmat menyampaikan temuannya melalui program resmi NASA, Vulnerability Disclosure Program. Setelah melalui proses verifikasi tim keamanan NASA, laporan tersebut dinyatakan valid dan namanya kemudian dicatat dalam daftar apresiasi keamanan siber NASA.

Kisah itu terasa semakin istimewa karena Rahmat bukan berasal dari perusahaan teknologi atau bangku perguruan tinggi. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pemotong rumput pada salah satu perusahaan di Siak dengan status outsourcing.

Rahmat merupakan lulusan SMK YPPI Tualang, jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ). Sejak 2021, ia mulai serius mendalami teknologi secara mandiri.

Dari belajar secara otodidak, kemampuan Rahmat berkembang hingga membawanya memasuki dunia keamanan siber. Bahkan, NASA bukan satu-satunya perusahaan besar yang mengapresiasi kemampuannya. Ia juga disebut pernah mendapat penghargaan dari Google.

Di hadapan Bupati Siak Dr. Afni Zulkifli, Rahmat menceritakan bahwa dirinya pernah mendapat tawaran dari sejumlah pihak untuk memanfaatkan kemampuan meretas sistem perbankan dan berbagai sistem lainnya.

Rahmat mengaku pernah menguji keamanan sistem pemerintah daerah. Namun, khusus untuk wilayah Riau, ia menegaskan tidak pernah melakukan peretasan terhadap sistem pemerintah daerah.

Bagi Bupati Siak Afni, kemampuan Rahmat merupakan talenta yang layak mendapat perhatian dan pendampingan.

“Anak muda luar biasa, cuma pemotong rumput, tapi bisa mendapat penghargaan dari NASA dan Google, raksasa teknologi dunia,” kata Afni, Kamis (20/8/2026).

Afni menilai kisah Rahmat menunjukkan bahwa masih banyak anak muda dengan kemampuan luar biasa yang belum mendapatkan ruang dan pengakuan.

“Rahmat ini adalah aset bagi negara ini, khususnya Kabupaten Siak dan Riau. Kita perlu membimbing lagi dan berupaya agar beliau bisa melanjutkan kuliah S1 dengan mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Kabupaten Siak,” ujarnya.

Afni juga memastikan pemerintah daerah akan memberikan pendampingan agar kemampuan Rahmat terus berkembang dan digunakan untuk hal-hal positif.

“Ilmu yang didapat secara otodidak ini harus digunakan untuk kepentingan kebaikan. Prestasi ini perlu kita hargai dan menjadi perhatian bersama,” katanya.

Perjalanan Rahmat menjadi bukti bahwa talenta tidak selalu lahir dari ruang kuliah, perusahaan teknologi, atau lingkungan yang serba mendukung.

Kadang, ia tumbuh dari rasa ingin tahu, dipelihara dengan ketekunan, dan menemukan jalannya sendiri.

Rahmat memulainya dari Siak, dari pekerjaan sebagai pemotong rumput. Kini, kemampuannya telah membawanya sampai ke daftar apresiasi keamanan siber NASA. (*)