• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Daerah
    • Pekanbaru
    • Kampar
    • Pelalawan
    • Siak
    • Bengkalis
    • Dumai
    • Rohul
    • Rohil
    • Inhu
    • Inhil
    • Kuansing
    • Meranti
  • Internasional
  • Ruang Bebas
  • Nasional
  • Politik
  • Hukrim
  • Sport
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • More
    • Tekno
    • Mom & Kids
    • Hiburan
    • Kesehatan
    • Travel
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Indeks
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
Pilihan
Aktivasi Siskamling, Bima Arya "Ronda" Bareng Wali Kota Bandung
Harga Beras Mulai Ada Penurunan di Banyak Daerah
Turunkan Angka Kemiskinan Ekstrem, Mendagri Tekankan Bantuan ke Masyarakat Harus Tepat Sasaran
Dinas Koperasi Kampar: 50 Persen Lahan Sawit yang Diserahkan PT Ciliandra ke Koperasi Siabu Tidak Layak
Ini Respon Kasat Lantas Polres Kampar, Terkait Keresahan Masyarakat Desa Siabu Terhadap Mobil Perusahaan Melebihi Tonase

  • Home
  • Pendidikan

Kelelawar Jadi Kambing Hitam Covid-19: Hewan Ini tak Semestinya Disalahkan

Redaksi

Sabtu, 17 Oktober 2020 18:20:18 WIB
Cetak
Kelelawar Jadi Kambing Hitam Covid-19: Hewan Ini tak Semestinya Disalahkan
Kelelawar. (Foto: Antara)

Sesekali, Mathieu Bourgarel meminta izin dari tetua desa untuk mengunjungi gua-gua suci, sambil membawa persembahan untuk menenangkan roh-roh setempat.

Dengan mengenakan masker wajah, baju overalls dan tiga lapis sarung tangan, dia memasuki kegelapan, menuruni tangga tali dan melalui ruang-ruang sempit di dalam gua.

Bau kelelawar ada di mana-mana, kotorannya mengendap berlapis-lapis di lantai dan dia berjalan seperti mengarungi lapisan salju.

Terkadang, ada kelelawar yang terkejut dari tidur, dan sayapnya menyikat dekat saat terbang.

Orang-orang di daerah di Zimbabwe ini menyebut kelelawar sebagai "naga bersayap", "tikus terbang", atau sekadar "yang jahat".

Seperti di tempat-tempat lain di dunia, mamalia terbang tersebut sering disalahpahami. Bagi ahli ekologi satwa liar itu, mereka adalah makhluk yang indah dan luar biasa.

"Mereka menakjubkan," katanya.

"Orang-orang takut akan sesuatu yang tidak mereka ketahui."

Bourgarel adalah pemburu virus untuk lembaga penelitian Prancis, Cirad. Dalam kerangka kerja sama dengan rekan-rekannya di Universitas Zimbabwe, dia pergi ke gua kelelawar untuk mengumpulkan sampel dan kotoran dari kelelawar.

Di laboratorium, para ilmuwan mengekstrak dan mengurutkan materi genetik virus-virus yang dibawa oleh kelelawar. Mereka telah menemukan berbagai virus corona yang berbeda-beda, termasuk satu yang masuk dalam keluarga yang sama dengan Sars dan Covid-19.

Penelitian ini adalah bagian dari upaya di seluruh dunia untuk menyelidiki keragaman dan susunan genetik dari virus-virus yang dibawa oleh kelelawar, dan mempersiapkan alat-alat agar dapat bereaksi dengan cepat ketika ada orang-orang yang mulai sakit.

"Penduduk setempat sering mengunjungi habitat kelelawar ini, untuk mengumpulkan guano yang digunakan sebagai pupuk bagi tanaman mereka," kata Elizabeth Gori dari Universitas Zimbabwe.

"Oleh karena itu, penting untuk mengetahui patogen yang dibawa oleh kelelawar tersebut, karena dapat ditularkan ke manusia," tambahnya.

Pakar-pakar kelelawar telah meluncurkan kampanye, Don't Blame Bats (Jangan Menyalahkan Kelelawar-kelelawar), untuk menghilangkan ketakutan dan mitos yang tidak berdasar tentang kelelawar, yang mengancam konservasi.

Mereka mengungkapkan, kelelawar adalah hewan yang paling disalahpahami dan diremehkan di planet ini.

Lama menjadi sasaran penghinaan, penganiayaan, dan prasangka budaya, mereka telah disalahkan atas sejumlah kejahatan yang menimpa manusia. Dan ketakutan dan mitos tentang kelelawar semakin meningkat akibat Covid.

Asal muasal virus yang telah menyebabkan pandemi itu belum diketahui. Tetapi sebagian besar ilmuwan setuju bahwa virus itu menyeberang ke manusia dari spesies-spesies hewan, yang kemungkinan besar kelelawar.

Itu tidak berarti kelelawar harus disalahkan; campur tangan kita yang semakin meningkat terhadap makhluk-makhluk liar inilah yang menjadi akar masalahnya.

Kebanyakan wabah penyakit yang muncul dapat dikaitkan dengan kerusakan alam oleh manusia. Ketika hutan atau padang rumput dihancurkan untuk peternakan, untuk menanam kedelai atau untuk membangun jalan dan permukiman. Hewan liar dipaksa untuk semakin dekat dengan manusia dan ternak, yang kemudian memberikan kesempatan bagi virus untuk melompat.

"Tidak dapat disangkal bahwa kelelawar, seperti banyak kelompok hewan lainnya, menghadirkan risiko nyata sebagai inang penyakit yang berpotensi berbahaya," kata Ricardo Rocha dari Universitas Porto, Portugal.

Tetapi dia menunjukkan, ketika mengontrol jumlah spesies kelelawar (1.400 atau lebih), jumlah virus yang menginfeksi manusia mirip dengan kelompok mamalia lain, seperti burung, hewan peliharaan, dan hewan pengerat.

Sejak tahun 2000, Kalimantan telah kehilangan hutan seluas 20.000 mil persegi.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa tiga dari setiap empat penyakit menular baru atau yang muncul pada manusia berasal dari hewan. Peringatan soal bahaya ini datang pada tahun 2002, ketika penyakit misterius, Sars, muncul di China, menyebabkan hampir 800 orang di seluruh dunia.

Pada 2017, para peneliti mengidentifikasi koloni kelelawar tapal kuda yang hidup di gua-gua terpencil di Provinsi Yunnan yang menyimpan potongan genetik virus Sars manusia. Mereka kemudian memperingatkan bahwa penyakit serupa bisa muncul lagi, dan mereka terbukti benar.

Namun, alih-alih menyalahkan satu spesies atau lainnya, kita perlu menilai kembali hubungan kita dengan alam, kata Rocha. Dia menunjukkan bahwa kelelawar sangat penting untuk ekosistem yang sehat dan kesejahteraan manusia.

Kelelawar menekan jumlah serangga yang berkerumun di perkebunan. Tanaman di daerah tropis mengandalkannya untuk penyerbukan, termasuk kakao, vanili, dan durian. Dan mereka menyebarkan benih pohon yang ditemukan di hutan hujan, yang membantu memerangi perubahan iklim.

Akan mengakibatkan "hasil yang mengerikan" jika kelelawar terus ditanggapi dengan persepsi buruk sebagai makhluk yang jahat, karena penyebaran penyakit dari hewan ke manusia lebih banyak tentang manusia yang merambah ke wilayah mereka daripada sebaliknya, kata David Robertson dari Universitas Glasgow.

Penyebab Covid-19 kemungkinan telah beredar pada kelelawar selama beberapa dekade, katanya, dengan kemampuan untuk juga menginfeksi spesies hewan lain.

Ada laporan-laporan terpisah tentang reaksi terkait Covid terhadap kelelawar, termasuk pembunuhan yang sesungguhnya terjadi atau yang disengaja di Peru, India, Australia, China, dan Indonesia.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa beberapa tindakan yang salah arah dapat menimbulkan konsekuensi serius bagi spesies kelelawar yang rentan dan bahkan meningkatkan risiko penyebaran penyakit.

Beberapa kelelawar buah tropis membawa benih-benih tanaman jauh dan luas.

"Kekhawatiran utama adalah bahwa banyak spesies kelelawar terancam punah, jadi bahkan kejadian kecil dari kekerasan yang salah arah dapat menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki dan memiliki efek aliran bencana bagi ekosistem yang diandalkan manusia," kata Douglas MacFarlane dari Universitas Cambridge.

Kelelawar telah hidup berdampingan dengan manusia selama berabad-abad, demi kebaikan bersama. Di kota pendidikan Coimbra di Portugal, kelelawar telah menempati perpustakaan Abad ke-18 selama lebih dari 300 tahun, memakan serangga yang mungkin bisa menghancurkan manuskrip. Kunjungi saat senja dan Anda mungkin melihat mereka melayang keluar dari jendela perpustakaan dan menukik ke bawah di jalan berbatu yang curam.

Ricardo Rocha berkata bahwa kita harus ingat bahwa kelelawar adalah bagian integral dari jaring alami kompleks yang menjaga kesehatan ekosistem.

"Jika ada pesan penting yang bisa dipetik dari momen malang dalam sejarah ini bahwa membuat alam sakit, membuat kita sakit," katanya. (*)

Fakta-fakta Mengenai Kelelawar:

Kelelawar adalah satu-satunya mamalia yang mampu terbang

Kelelawar pemakan serangga dapat menghemat US$3,7 miliar bagi petani-petani AS setiap tahun dengan mengurangi kerusakan tanaman

Lebih dari 500 spesies tumbuhan bergantung pada kelelawar untuk penyerbukan

Kelelawar berada dalam kondisi terancam pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat perusakan habitat, perubahan iklim, perburuan dan tekanan lainnya

Sumber: Bat Conservation International


Sumber : bbc.com /

[ Ikuti RuangRiau.com ]


RuangRiau.com

Berita Lainnya
+INDEKS
Pendidikan

Jelang GCMC IMT-GT, Wawako Pastikan SMP Negeri 4 Siap Sambut Delegasi Tiga Negara

Rabu, 29 Juli 2026 - 16:58:53 WIB

PEKANBARU (RUANGRIAU.COM) - Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru terus mematangkan .

Pendidikan

Pekanbaru Juara Umum O2SN Riau 2026 dan Lolos ke Tingkat Nasional

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:33:58 WIB

PEKANBARU (RUANGRIAU.COM) - Kontingen Kota Pekanbaru keluar sebagai juara umum O.

Pendidikan

Beasiswa 2026: Kuliah Gratis di UISI sampai Lulus!

Senin, 27 Juli 2026 - 11:51:48 WIB

JAKARTA (RUANGRIAU.COM) - Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) menaw.

Pendidikan

Polsek Bukit Kapur Edukasi Siswa SMPN 17 Dumai tentang Bahaya Narkoba

Kamis, 16 Juli 2026 - 19:33:24 WIB

DUMAI (RUANGRIAU.COM) - Polsek Bukit Kapur terus mengintensifkan upaya pencegaha.

Pendidikan

Perkuat Budaya Baca, Forum Pegiat Literasi Pekanbaru Jadi Ruang Kolaborasi Komunitas

Ahad, 12 Juli 2026 - 14:38:50 WIB

PEKANBARU (RUANGRIAU.COM) - Forum Komunikasi Pegiat Literasi Pekanbaru .

Pendidikan

Jalur Domisili Membludak, Pendaftar SPMB SMP Negeri Pekanbaru Tembus 8.301 Siswa

Ahad, 28 Juni 2026 - 12:48:14 WIB

PEKANBARU (RUANGRIAU.COM) - Jalur domisili menjadi jalur paling diminati dalam S.


Tulis Komentar
+INDEKS


Terkini
+INDEKS
Jelang GCMC IMT-GT, Wawako Pastikan SMP Negeri 4 Siap Sambut Delegasi Tiga Negara
29 Juli 2026
DPRD Pekanbaru Jajaki Teknologi Jepang Ubah Sampah Jadi Energi, Diklaim Tanpa Bebani APBD
29 Juli 2026
Pengaspalan 19 Ruas Jalan Dikebut, Pemko Pekanbaru Targetkan Tuntas Tahun Ini
29 Juli 2026
Kampar Junior FA U-17 Pesta Gol 9-0 Lawan Young Abadi FC di Piala Soeratin
29 Juli 2026
Jalan Teratai Segera Diaspal, Pemko Minta Pedagang Kosongkan Badan Jalan
28 Juli 2026
BPBD Kampar Terima Bantuan CSR Sapras Penanggulangan Bencana dan Karhutla dari PLN Nusantara Power
28 Juli 2026
Pekanbaru Juara Umum O2SN Riau 2026 dan Lolos ke Tingkat Nasional
28 Juli 2026
Wakil Ketua DPRD Pekanbaru Dorong Penanganan Banjir Berbasis Perencanaan Jangka Panjang
28 Juli 2026
Ikuti Piala Suratin U-17, Kampar Junior FA Resmi Dilepas Berangkat ke Inhu
28 Juli 2026
Beasiswa 2026: Kuliah Gratis di UISI sampai Lulus!
27 Juli 2026
Terpopuler
+INDEKS
  • 1 Reses Aidil Amri Berbuah Solusi, Warga Meranti Pandak Lega BPJS Diurus dan Jalan Pesisir Segera Diperbaiki
  • 2 Dishub Tegaskan Truk dan Angkutan Barang Dilarang Melintas di Jembatan Siak I
  • 3 "Jangan Membuat Kita Was-Was", Ini Kriteria Sekda Pekanbaru Pilihan Wali Kota
  • 4 Bapenda Pekanbaru Ajak Warga Segera Lunasi Pajak Kendaraan, Hindari Terjaring Razia
  • 5 Zulkardi Desak PUPR Segera Aspal Jalan Menuju SMPN 24 dan SDN 168 Agrowisata, Keselamatan Pelajar Jadi Prioritas
  • 6 Tim Sapa Motoris Satpol PP Diluncurkan, Kedepankan Penegakan Perda yang Humanis
  • 7 Proyek Tol Tinggalkan Persoalan, Zulkardi Tegaskan HKI Harus Bertanggung Jawab

Ikuti Kami


Tentang Kami
Redaksi
Pedoman Pemberitaan
Info Iklan
Kontak
Disclaimer

RuangRiau.com©2020 | All Right Reserved